Article 1: Krisis Iklim di Indonesia Tidak akan Terjadi jika Anak Muda Masih Tahu Perjuangan Semangat 45

     "Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia." Bung Karno


            Sudah 75 tahun Indonesia merdeka sejak proklamasi dikumandangkan oleh sang proklamator bung Karno. Mengingat sejarah bangsa ini, upaya kemerdekaan bangsa Indonesia tidak lepas dari perjuangan para pemuda karena kenyataannya merekalah yang mengambil peran penting detik-detik kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945. Kita tidak akan mungkin lupa peristiwa Rengasdengklok dan peristiwa sumpah pemuda yang selalu diperingati pada tanggal 28 Oktober sebagai hari sumpah pemuda yang membuktikan bahwa pemuda tonggak utama pergerakan kemerdekaan Indonesia. Tapi sekarang ini, perubahan sosial yang terjadi begitu cepat di kalangan kaum muda telah melupakan jati dirinya dan identitasnya sebagai pemuda Indonesia yang semestinya. Kemerdekaan yang telah raih bukan berarti perjuangan anak muda telah selesai tetapi perjuangan yang sesungguhnya baru akan dimulai.

 Bung Karno pernah berkata dalam pidatonya bahwa "perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri." Saat ini anak muda mengalami krisis karakter seperti maraknya kekerasan, tawuran dan semacamnya menyebabkan Indonesia dihadapkan permasalahan krisis iklim sebelum terjadinya pandemi COVID-19. Bahkan kaum anak muda di era saat ini terperangkap dalam lubang eskapisme, apatisme dan hedonisme yang semuanya itu mengarah pada ketidakpedulian sosial atau apa yang disebut”anti sosial”. Ketidakpedulian kaum muda atau abai terhadap masalah lingkungan seperti hutan gundul, banjir, kekeringan, tanah longsor, es mencair yang menyebabkan pemanasan global. Jika hal ini terus berkelanjutan akan menimbulkan krisis iklim yang lebih parah daripada yang terjadi saat sekarang ini.

Menurut rangkuman data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika sebagai pusat data informasi perubahan Iklim Indonesia menyediakan informasi berupa peta spasial dari proyeksi perubahan parameter curah hujan dan suhu beserta indeks-indeks turunannya, untuk seluruh wilayah Indonesia dalam resolusi spasial 25 km x 25 km. Peta proyeksi iklim ini merupakan hasil pengolahan data keluaran dari kegiatan pemodelan iklim regional dalam konsorsium internasional pemodelan iklim CORDEX-SEA, dimana BMKG menjadi salah satu bagian didalamnya. Data yang didapat dari keluaran kegiatan pemodelan CORDEX-SEA terdiri atas ensemble dari hasil proses downscaling enam jenis model proyeksi iklim global (GCM) dalam dua skenario RCP. Data ini disajikan dalam bentuk peta perubahan rata-rata normal / rata-rata komposit dari dua periode yang dibandingkan untuk parameter-parameter iklim terkait curah hujan dan suhu. Periode yang dibandingkan adalah periode hasil simulasi historis model (1976-2005) dengan periode proyeksi dengan skenario kenaikan gas rumah kaca dalam jangka waktu near-future (2020-2049) (BMKG, 2020). Dari data tersebut menunjukkan hasil akan perubahan pada tingkat rata-rata curah hujan yang terjadi di Indonesia. Tentu hal ini akan menjadi masalah yang mengkhawatirkan bagi kita bagaimana nasib bangsa Indonesia kedepannya.

Kaum muda sebagai agen of change harus mengambil peranan penting dan tidak tinggal diam melihat situasi yang terjadi sekarang. Tapi dalam kenyataannya rasa-rasanya pesimis bahwa kaum muda bisa menyatu dan diharapkan  ikut andil dalam menyelesaikan krisis iklim. Inilah yang akan menjadi fokus  dari tulisan ini, membahas mengenai penyebab terjadinya krisis karakter pada kaum muda menyadarkan untuk berkontribusi kembali dalam membangun bangsa Indonesia emas dalam 20-30 mendatang yang menjadi harapan kita. Indonesia masih membutuhkan peran kaum muda sebagai kekuatan yang penting membangun Indonesia. Karena kenyataannya kaum muda lah mengabdi tanpa pamrih dengan penuh semangat, rela berkorban demi kepentingan bangsa, beridealisme tinggi, berintelektual tinggi tanpa memandang dari latar belakang sosial dan budaya. Sudah disebutkan diatas, bagaimana peranan kaum muda dalam merintis bangsa Indonesia atau tentang cerita bagaimana para kaum muda pada masa dulu yang mengenalkan konsep persatuan dan kesatuan bangsa dengan digelarnya Sumpah Pemuda.

Maka tidak berlebihan, jika presiden pertama Republik Indonesia ini begitu menaruh kepercayaan besar pada kaum muda yang dipandangnya potensial dalam menciptakan perubahan sosial, termasuk pembangunan. Dalam sebuah pidatonya yang terkenal, Soekarno mengatakan: "Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia..” (Soekarno, 1988). Apalagi Indonesia 25 tahun yang akan datang genap berusia 100 tahun. Tepatnya pada tahun 2045, Indonesia akan mengalami bonus demografi  yakni jumlah penduduk usia produktif (berusia 15-64 tahun) lebih besar daripada jumlah penduduk usia tidak produktif (berusia di bawah 15 tahun dan di atas 64 tahun). Pada periode tersebut, penduduk usia produktif diperkirakan mencapai 64% dari seluruh jumlah penduduk yang diprediksi sebesar 297 juta jiwa.

Dalam menyongsong generasi emas 2045, bonus demografi hendaklah disikapi dengan sangat baik. Untuk itu peranan keluarga sangat penting sebagai hulu dari dasar pembentukan karakter yang baik akan melahirkan putra-putri bangsa dengan berkualitas baik. Maka dari itu, mulai saat ini kaum muda harus meningkatkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual secara maksimal. Jika pembangunan sumber daya manusia bisa diselesaikan, hal itu akan menjadi sebuah kekuatan besar bangsa Indonesia. Tetapi jika mengalami kegagalan melaksanakan pembangunan sumber daya manusia, hal ini akan menjadi beban negara yang besar.

Karena krisis karakter dari kaum muda inilah yang berdampak begitu terasa, kontribusi kaum muda yang diperlukan bangsa Indonesia dalam menyelesaikan masalah-masalah bangsa ini termasuk didalamnya mencari penyelesaian masalah lingkungan yang terjadi akhir-akhir ini kurang begitu terlibat atau bahkan sampai sama kali tidak ada. Disaat sekarang ini, kaum  muda mengambil peran penting untuk pembangunan bangsa Indonesia. Berkontribusi secara aktif dalam mempersiapkan era emas Indonesia di tahun 2045 mendatang. Menyuarakan hak-haknya atas masa depan yang akan dihadapinya di masa mendatang. Serta mencari solusi atas permasalahan yang tengah dihadapi maupun yang akan dihadapinya di masa mendatang (Kurniawan, 2020).

Akhir kata, Melalui tulis esai ini, diharapkan kepada pemerintah agar meningkatkan kebijakan sejalan dengan kondisi di masyarakat sehingga tercipta generasi emas Indonesia yang akan membawa perubahan bagi besar pada masa 25 tahun mendatang sekiranya kesempatan emas pertama kali ini sejak Indonesia merdeka dapat kita kelola dan manfaatkan dengan baik akan menjadi bonus demografi yang sangat berharga. Akan tetapi sebaliknya, bukan hal yang mustahil kesempatan emas ini akan berubah menjadi bencana demografi manakala tidak dapat mengelola dengan baik. Terakhir kaum muda sebagai tonggak penerus bangsa lebih diarahkan untuk bisa terus berkarya memajukan bangsa dengan berkontribusi secara aktif mencari solusi atas permasalahan yang tengah dihadapi maupun yang akan dihadapinya di masa mendatang. Bukan hanya terkait permasalahan lingkungan, tetapi seluruh permasalahan yang ada saat ini. Dan sekiranya hal ini bisa menjadi bahan refleksi dan evaluasi bagi kaum muda untuk sadar akan kondisi bangsa Indonesia yang usia kemerdekaannya bahkan tidak bisa disebut muda lagi.

 

 

Daftar Referensi

Syamsul Kurniawan . 2020. Refleksi HUT RI Ke-75: KRISIS KARAKTER GENERASI MUDA, MENGAPA TERJADI?, http://ftik.iainptk.ac.id/refleksi-hut-ri-ke-75-krisis-karakter-generasi-muda-mengapa-terjadi/https://www.bps.go.id/pressrelease/2021/01/21/1854/hasil-sensus-penduduk-2020.html [Diakses Pada 15 Juni 2021]

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. (2020). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, https://www.bmkg.go.id/iklim/?p=proyeksi-perubahan-iklimG [Diakses Pada 15 Mei 2021]

Comments

Popular posts from this blog

Module 19: Idiomatic Expression Part 1

Module 26: Verbal Vocabularies

Module 27: Nominal Vocabularies